Minggu, 20 November 2011

tentang aku dan keluarga :)


About Me

About Me

nama lengkap saya adalah anisha puji lestari.
saya di lahirkan oleh orang tua saya tepatnya di jakarta pada tanggal 04 januari 1996 .
di sana saya memulai hidup di dunia ini dengan penuh semngat dan sangat ceriaa #eaea (namanya anak kecil pastinya POLOS)
saya tinggal di jakarta sampai umur saya 3 tahun setellah itu saya pindah ke majalengka tepatnya di BTN Andir Purnajaya no.8.
ketika saya duduk di sekolah dasar kelas 3 sd saya pindah ke jalan olahraga nah tepat ini lah rumah saya sampai sekarang hidup tinggal sederhana bersama keluarga ku.
orang tua saya hanya pekerja biasa. bahkan rumah saya membuka CUCI STEAM #promosi ayo yang motor atau mobil kotor datang yaaa ke rumah aku wkwk
nah sekarang di umur saya yang ke 16 saya sekolah di Sma Negeri 1 majalengka cerita itu sekolah elit (meureun) da emang ketang soalnya terlalu banyak duit yang keluar HAHA
kehidupan saya yaaah seperti ini lah kadang di bikin seneng kadang di bikin sedih tapi selalu kepengen bikin orang orang seneng sama saya :*
minat ku bisa masuk kedokteran UGM ngidamin banget deh disitu mbabro masbro -,-
oke semangat menghadapinya yeaaah !
keep youre smile oke :)

ini aku waktu zamannya TK
ini kedua orang tua aku (mirip gak ya) --"
nah ini aku yang sekarang cantik kaan ? #eaa

doakan semoga kita sukses eaaaa ceman ceman :')

SEMANGAT AYO SEMANGAT !!

0 komentar:

Posting Komentar

Anak Haram :'(

Bapakku setan. Ibuku jalang. Orang-orang bilang, aku anak haram.

Aku pernah ingin tanya, “Ibu, mengapa tidak aborsi saja?” Mengapa harus melampiaskan dendam kepada Bapak terhadapku. Mengapa pula harus selalu memakiku, menumbukkan kepalaku ke dinding, menamparku, dan menyuapi aku dengan darah yang mengalir dari bibir-bibirku yang pecah. Pernah aku ingin bertanya tentang hal itu, namun aku tak berani.

Lelaki yang disebut Bapak yang tidak aku tahu siapa dia. Kelak jika aku bertemu dengannya, aku ingin juga tanya hal yang serupa, “Bapak, mengapa tidak paksa saja Ibu aborsi. Agar aku tidak pernah lahir, agar aku tidak tersiksa.

Anak-anak lain jika ditanya, ingin bercita-cita menjadi apa? Mereka mungkin akan riang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, guru, atau apapun. Aku, jika ditanya hal yang serupa, aku cuma ingin jawab: aku ingin bunuh mereka.

Hari itu, umurku genap tujuh belas. Ibu memang tidak sekejam dulu, tetapi aku tetap membencinya. Wanita jalang, lacur, sundal, dia yang tega melahirkan anaknya untuk kemudian disiksa. Hukuman apa yang pantas untuk wanita seperti itu? Mati. Aku sudah berencana ingin menghabisi wanita yang tidak sudi aku panggil ibu itu. Aku benar-benar bertekad ingin membunuhnya.

Ibu memanggilku. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan, begitu ucapnya.

Sejenak, aku heran. Entah hal apa yang lebih penting bagi dia untuk dibicarakan denganku selain makian-makian dan tamparan untuk anak jadahnya ini.

Nama Bapakmu, Susanto.” Ucapnya datar. Matanya yang menua menerawang ke angkasa, seolah ingin membuka tabir kelam yang berusaha erat ditelan. Detik itu aku merasa heran, sekilas aku mengasihaninya di tengah lautan kebencian yang berpalung dalam.

Susanto yang dimaksud Ibu adalah seorang buruh kapal di dermaga dekat desaku. Lelaki kekar yang telah larut dimakan usia. Lelaki dengan otot-otot kekar yang telah mengendur. Lelaki beristri dengan seorang anak wanita, dua tahun di atasku, perawan, tidak begitu cantik.

Surti adalah nama anak perawan Bapakku itu. Sudah dua tahun aku memacarinya. Sekarang Surti hamil, mengandung anakku. Sebagai lelaki, aku akan bertanggung jawab. Aku sudah bilang ke Ibu tentang Surti dan aku telah bertemu dengan Susanto.

Hari ini, aku membawa Ibu bertemu dengan Bapakku itu. Hendak melamar Surti.

Surat dari Anak yang di ABORSI

Broo, gue pengen share aja nih. Mungkin bagi loe yang punya fesbuuk note ini udah pernah ke telinga kalian. Jadi ini note berisi cerita tentang dimana sesosok bayi/anak yang telah di aborsi menulis surat kepada ibu yang telah mengarbosi dirinya.

Nah, bagi yang pengen ngesex diluar nikah coba loe loe pada baca deh dan hayati!!


-- Surat dari Anak yang di ABORSI --

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh Teruntuk Bundaku tersayang...

Dear Bunda...

Bagaimana kabar bunda hari ini? Semoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang bange...t deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda.... Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat... Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama tinggal di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan. Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.
Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah... Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam. Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu.
Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda. Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu... Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu. Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian. Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu.
Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak. Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di surga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....muach!

Inikah Anak Jalanan?

Baik buruknya ini cerpen hanya pembaca yang menentukan


Selamat membacaaaaa.. . . .. .. . .

Inikah Anak Jalanan?



Merdu. Nyanyian burung kian manis di pagi hari yang sunyi. Matahari mengintip di balik keagungannya yang besar. Perlahan beranikan diri membuktikkan kebesaran yang megah. Hangat pagi merasuki tubuh dan memanjakan permukaan kulit. Kutarik dalam-dalam udara segar agar menelusuk hidung. Hari libur paling menyenangkan melemaskan badan. Waktu tidak memungkinkan bersantai-santai lebih lanjut. Mengingat segunung tugas menunggu untuk diraba dan dicoba. Ku buka isi otakku. Meliput anak jalanan adalah file otak yang belum di tanggung. Bertambahlahi file karena ulah dosen.
Air pagi mempersegar tubuh. Dingin. Ku persiapkan barang-barang yang dibutuhkan selama aku bekerja. Matang untuk melihat kehidupan sekelompok nista bagi orang-orang. Kadang hatikupun demikian. Minggu lalu hal semacam ini berharap dirancang sukses. Aku bertanya pada jiwaku ini.”Apa sanggup bersama mereka?”. “Satu hari satu malam.”.Hari inilah jawaban dari semua pertanyaan yang ada disini. Hati. Orangtua menyemangati apa yang kulakukan. Bermodalkan tas berisi seadanya dan uang secukupnya semaki tertantang saja dibuatnya.
Gedung-gedung menjulang tinggi menghiasitanah ibu kota tercinta. Terpampang dari sisi kiri kanan angkutan umum. Sekian berubah menjaditempat kumuh. Bangunan diperkuat balok seadanya dan seng berkarat menyempurnakan sisi atap. Mengenaskan bila dilihat mata hati manusia. Macam apa dia yang tinggal diasana. Lima ribu rupiah adalah tanda terima kasihku pada sopir yang telah memberikan jasa ke semua orang di Jakarta.
Tempatku berdiri terletak dari beberapa meter ke tempat tujuan. Perlahan demi perlahan jejak kaki ku buat ditanah lembab. Bau tak sedap hadir di penciumanku. Pemukiman yng kumuh. Rel kereta api terpampang di rumah mereka yang berjarak tiga meter dari sini. Anak – anak kecil asik bermain bersama teman sebayanya. Tidak habis piker tempat kotor nan sedih dan kumuh ini masih ada keceriaan di dalamnya. Bagaikan lukisan cantik bergantung di dinding yang keropos. Sampailah aku di depan bangunan kecil amat sederhana. Tidak lebih sederhana. Pintu tertutup rapat lalu aku mengetuknya. Sesaat. Keluarlah sesosok anak kecil berumur dua belas tahun. Berpakaian ala kadarnya.
Wajah hitam kucel itu tidak sanggup mengalahkan indahnya senyuman terpancar dari perawakannya. Kubalas hangat senyum itu. Lalu kusapa.
“ Hi, apa kabar? Gimana hari ini bisa kakak rekam?”
“ Pasti dong kak. Berasa artis nih. Hehe.” Sahut dia penuh keceriaan.
“ Ya udah, kakak nitip barang – barang di rumah kamu yah.”
“ Ok. Taruh di kamar aku saja.”
Matahari mulai tegak di langit biru. Pekerjaanku segera dimulai. Dia. Adalah dari sekian anak jalanan yang menaruh takdir hidupnya di jalanan lepas. Namun dibalik itu ada rahasia sangat dalam mengundang. Kutekan tombol play pada handycam kuarahkan lensa ke dia. Gelagak tawa dan tingkah polosnya mulai dipicu. Siang itu aku diajak oleh sekawanan dia. Kesengsaraan menyelimutinya, tapi masih ada tawa di muka polosnya. Kesana kemari berlarian tanpa beban. Ringan dan lincah. Sudah cukup lami kami berjalan. Handycamku masih aktif merekam semua kejadian. Sampai batasnya di bawah kolong jembatan tol. Perempatan jalan di daerah Jakarta Timur.
Dia mulai beraksi. Lensa handycamku terus fokus dari jauh. Duduk terpaku melihatnya. Ditemani gitar kecil, bergantian dia beraksi di jalanan panas. Panasnya matahari bukan alsan mereka untuk berhenti. Receh demi receh masuk ke kantong mereka. Pemberian ikhlas dan hasil jeri payahlah yang mereka inginkan. Bukan iba dan kasihan yang diterima. Terduduk mereka di pinggir jalan sambil bersenda gurau. Tubuhku langsung menghampiri.
Puas mereka beraksi di jalan kini giliran didepan handycam unjuk gigi. Jujur saja lima menit disini ibarat di neraka. Tapi panas menyengat tidak menciutkan semangat mereka. Berbekal modal dua ribu rupiah, nasi plus lauk pinggir jalan sudah memanjakan perut. Bagi dia dan kawan – kawannya. Terduduk lagi aku ditempat tadi sambil menyorot. layakkah para penerus bangsa ini berkeliaran di jalanan lepas? aku bertanya ke diriku lagi. Tanpa lelah terus saja mencari uang demi kehidupan. Bekerja keras. Andaikan petinggi – petinggi Indonesia memiliki semangat juang seperti mereka. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia? Kemajuan pasti digenggam tangan. Satu – persatu mobil dihampiri. Siap menerima uluran tangan pengemudi ikhlas.
Aku tersentak dengan segerombolan pria dewasa. Berpakain hitam dan celana bolong menandakan kebringasan. Rambut gondrong tak karuan. Kulit di penuhi bekas luka – luka lampau. Sorotanku bertahan terus. Akan terjadi peristiwa.
Kucing menangkap tikus. Kuberi nama aksinya. Kekhawatiran memeluk tubuhku. Pikiran berkecamuk tiada henti.keteguhan hati memintaku diam. Ini tugasku. Inilah hidup dia. Segerombolan itu menunjuk kearah anak muda yang sedang mencari makan hidup. Menghampiri lalu mengelilingi mereka. Rasa takut menyambut. Lensa terus fokus dan mencatat apa yangt terjadi. Digerayanginya kantong dia penuh memaksa. Percuma memberontak. Senyuman kecil tersungging atas hasil yang di dapat. Sejumlah uang anak jalanan dari bersusah payah bekerja seharian. Musnah sekejap oleh segerombolan preman jalanan.
Kehidupan memang keras. Batu saja kalah kerasnya oleh kehidupan ini. Aku tetap duduk membisu di kolong jembatan. Menyaksikan yang terjadi dari lensa handycamku. Segerombolan preman pergi menjauh. Merdeka dari apa yang ditemukan. Anak jalanan saling menyesalkan. Duduk tapi raut muka yang tidak menyenangkan. Terus diam. Dia, berdiri. Lampu jalanan berwarna merah. Alat musik gitar dibawa ke jalanan. Aku tersenyum. Penderitaan habis terjadi. Semangat mereka masih menetes. Aku yakin pada hati dia. Satu orang tidak cukup. Semuanya pun turun.
Langit berwarna jingga. Matahari pun kini mengumpat dibalik bumi Indonesia. Mereka menjemputku. Badannya penuh keringat dan kesah. Satu pertanyaan menyambutku.
“ Kak, kok tadi gak bantuin kami sih?” spontan aku menjawab
“ Maaf dek, kakak sedang meliput kalian. Jadi kakak harus tetap merekam tanpa ada sangkut paut dari kakak.”
“ Ooh, gitu. Ya udah ayo kita pulang.”
Aku mencoba tersenyum. Gelap kini menyelimuti cakrawala. Lampu – lampu kecil menerangi daerah yang amat kecil di kota besar Jakarta ini. Adzan Maghrib berkumandang. Dia dan yang lain bergegas menuju masjid.
Handycamku menyala dengan tenaga baru. Satu yang tidak mungkin ditinggalkan adalah berserah diri pada yang maha kuasa. Aku juga ikut shalat berjama’ah. Mereka melanjutkan dengan mengaji di Masjid. Itu adalah salah satu rutinitas mereka. Aku keluar Masjid sambil menunggu mereka selesai. Lampu – lampu yang bergantungan masing - masing rumah menemaniku di malam yang senyap. Sepi dan dingin. Bintang – bintang berlomba memancarkan sinar yang terang. Handycamku berhenti bekerja. Tenggelam oleh lamunan dan seruan pengajian yang sekali lagi menyadarkan.
Hidup itu keras. Kupejamkan mata. Tidak di sadari telapak tangan menengadah ke langit luas. Ucapan doa melantun dari mulutku. Doa terimakasih, doa syukur, doa dia, doa keselamatan, doa orang tua, doa semua manusia, doa alam semesta, dan doa jagat raya. Berteriak kencang di palung hati. Gravitasi membuat air dari kantung mataku jatuh. Kenapa? Baru sekaarang aku menyadari hal semacam ini. Mengapa? Baru menangis sekarang. Bagaimana? Aku mengubahnya. Jam tanganku berdenting delapan kali. Pengajian telah selesai. Aku diajak berkeliling oleh dia dan teman – temannya. Sejam berlalu. Aku dan dia kembali kerumah. Dikamar. Aku disuguhi berbagai pengalaman yang ada di isi kepalanya. Aku tak tahu ekspresi apa yang mesti ku keluarkan. Senang? Sedih? Campur aduk mengocok naluriku. Panjang lebar ngalor ngidul dia bercerita. Seusai bercerita, diambilnya barang – barang yang menurutnya berharga. Di tadahkan tanganku agar menerima pemberiannya. Ucapan terima kasih berseru dari mulutku. Sedari tadi handycamku terus menelusuri apa yang terjadi.
Kusoroti semua tanpa tersisa. Kulihat raut wajah mengantuk dari anak ini. Tidak terhitung berapa kali dia menguap.
“ Kak, tidur yuk, udah malam!”
Aku mengiyakan ajakannya. Di pembaringan. Hari ini bertambah pengalaman tak terduga di hidupku. Pasti kucatat dengan tinta amat tebal. Sepi menuntunku ke alam mimpi. Terlelap.
Suaa anjing menggonggong. Ayam berkokok kencang. Burungpun ikut serta dalam paduan suara pagi itu. Karena merekalah aku terbangun dari malam yang sangat panjang. Nyenyak. Perlahan aku mencoba menopang badanku yang besar. Kesadaran belum pulih betul. Kulihat disebelah. Dia sudah tidak ada. Ku hampiri pintu keluar kamar. Matahari menyapa bersahabat dari luar rumah. Suasana kumuh tetap melekat di daerah ini. Namun udara segar pagi mengenakan. Bapak – bapak yang lalu lalang menyahutku ramah. Anak – anak bermain gembiranya. Aku kaget tepukkan tangan dia yang mungil mendarat di atas pundakku. Seraya mengajakku sarapan pagi. Aku pun beranjak dari teras nan sederhana. Menuju ruang makan.
Nasi, tempe, ikan asin, dan lalapan menggiurkan di atas meja. Aku sarapan dengan keluarga yang asri. Meskipun kehidupan yang dipikul sangat berat. Mereka tetap bersyukur akan apa yang ada. Seusai makan aku merapikan barang – barang dan semua perlengkapanku. Mereka menunggu di depan rumah. Akhirnya pertemuan langka ini akan berakhir di pagi yang cerah. Sepintas aku mengeluarkan uang. Kuberikan kepada dia dan dia yang lain. Senangnya, melihat mereka bertingkah konyol gembira. Tidak lupa orangtua dia yang sedia menampungku. Aku menyalami semua yang hadir.
Waktu membawaku pergi dari mereka. Lambaian tangan gemulai menyejukkan hatiku. Akan ku ingat daerah ini. Bila waktu mengizinkan. Aku pasti mengunjungi tempat ini. Batunya kehidupan akan hancur oleh kerja keras yang deras dan kebahagiaan yang tidak kunjung henti mengalir

my prince :*

my prince :*

Blogger templates

me and danboo :*

me and danboo :*
Diberdayakan oleh Blogger.

My Playlist

ordinary girl :)

ordinary girl :)

Mengenai Saya

Foto saya
saya orang apa adanya hargai saya jika anda ingin di hargai. keep youre smile :) *Semangat!!*
keep smile and spirit !! yeaaaah \(´▽`)/

Pengikut

love danbo :*

love danbo :*

Blogroll